Senin, 04 Mei 2009

Antasari-Nasrudin Saling Mengancam, Rebutan Caddy Cantik


Dugaan bahwa Nasrudin Zulkarnaen, direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB), dibunuh karena latar belakang asmara semakin kuat. Pesan singkat (SMS) di ponselnya membuktikan hal itu. Nasrudin juga dilaporkan sempat membentuk tim pengacara sebelum tewas karena diberondong peluru di dalam mobil.

Fakta-fakta itu diungkapkan Boyamin, anggota tim advokasi Nasrudin, di Solo kemarin pagi (1/5). Menurut dia, pembunuhan tersebut dilatarbelakangi kasus asmara yang melibatkan salah seorang petinggi di negara ini yang berinisial AA. Boyamin tidak mau membeberkan kepanjangan inisial AA itu. Tapi, kemarin sore kepolisian dan Kejagung sudah menyebut Ketua KPK Antasari Azhar sebagai tersangka.

SMS itu, lanjut Boyamin, dikirimkan dari nomor ponsel Antasari. ''Tolong persoalan di antara kita diselesaikan dengan baik-baik. Kalau perlu, saya minta maaf. Tolong jangan di-blow up ke media. Kalau di-blow up tanggung sendiri risikonya,'' bunyi SMS dari Antasari ke Nasrudin seperti dikutip Boyamin.

Sebelum terbunuh, kata direktur Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) itu, Nasrudin sempat membentuk tim pengacara untuk mengusut ancaman tersebut. Namun, sebelum kasus itu diusut, Nasrudin telah terbunuh.

''Saat fakta-fakta yang kami temukan itu dikolaborasikan, mereka berdua itu (Antasari dan Nasrudin, Red) telah berteman sejak lama. Bahkan, sejak AA belum menjadi pejabat negara," jelasnya. Mereka dilaporkan saling bertukar informasi tentang suatu kasus yang terjadi di RNI (PT Rajawali Nusantara Indonesia, induk perusahaan PT PRB).

Namun, karena teman kencan korban diganggu Antasari, mereka berdua akhirnya saling mengancam. Fakta dan beberapa bukti yang sudah ditemukan itu, imbuh Boyamin, telah diserahkan sepenuhnya kepada polisi oleh keluarganya melalui pengacara. Tentu, temuan itu dipergunakan sebagai bahan pengungkapan kasus tersebut.

Selain bukti SMS, pihak keluarga melalui pengacara juga telah menyampaikan fakta-fakta lain tentang kedekatan hubungan korban dengan Antasari. Keluarga juga telah menyerahkan foto-foto mengenai kedekatan antara Antasari dan pasangan korban. Ditanya soal keterlibatan Sigid Haryo Wibisono (dalam keterangan persnya, Boyamin menyebut Sigid sebagai SHW) dalam perkara tersebut, Boyamin menyebut dia teman dekat sekaligus tim sukses Antasari saat akan menjabat pejabat tinggi di negara ini.

Mungkin, saat itu Antasari berkeluh kesah kepada Sigid tentang permasalahannya. ''Mungkin, SHW kebablasan dalam merespons pesan dari AA. Bisa juga, AA secara langsung menyuruh SHW untuk bertindak lebih jauh,'' ungkapnya. Boyamin meminta polisi mendalami materi dari sejumlah fakta dan barang bukti yang telah diberikan itu.

Khususnya, untuk mengetahui seberapa jauh peran Antasari. Apakah sekadar berkeluh kesah, minta tolong, atau menyuruh Sigid secara langsung. ''Dari sembilan orang yang tertangkap, termasuk SHW, kami harapkan bisa diketahui motivasi pembunuhan, siapa yang membayar, dan mereka dibayar berapa,'' tandasnya.

Seperti diberitakan, penyelidikan polisi terhadap kasus pembunuhan yang menimpa Nasrudin pertengahan Maret lalu kian terang. Satu di antara sembilan orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah Sigid Haryo Wibisono, 42. Dia adalah politikus, pengusaha, dan dikenal dekat dengan keluarga Gus Dur.

Sejak Rabu malam lalu (sekitar pukul 23.00), Sigid ditahan di Polda Metro Jaya bersama enam tersangka lain. Sementara itu, dua tersangka yang lain hingga tadi malam buron. Peristiwa yang dialami Nasrudin terjadi pada 14 Maret lalu. Dia ditembak dua pria tak dikenal ketika pulang dari bermain golf sekitar pukul 15.00 di kawasan Apartemen Modern Land, Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Ketika itu, Nasrudin berada di mobil BMW miliknya bernopol B 191 E yang disopiri Sentoro. Dua peluru menembus kepala direktur BUMN bidang agrobisnis, perdagangan, alat kesehatan, dan farmasi itu. Nyawanya tak tertolong setelah sekitar 20 jam dirawat di rumah sakit.

Berdasar hasil penyelidikan sementara polisi, kasus penembakan Nasrudin itu disebut-sebut melibatkan pejabat negara. Sumber yang bisa dipercaya di Polda Metro Jaya mengatakan, selain Sigid, salah seorang di antara tujuh tersangka yang diamankan adalah mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombespol Williardi Wizar. Nama salah satu pejabat tinggi di pemerintahan juga disebut-sebut terlibat di dalamnya.

Dua minggu sebelum insiden, kuasa hukum Nasrudin lainnya, Jeffry Lumempouw, mengaku sempat bermain golf dengan Nasrudin di Padang Golf Pondok Indah. Mereka juga sempat salat Asar bersama. Saat itu, Jeffry melihat wajah Nasrudin tampak sangat cemas. "Beliau khusyuk sekali menjalankan salat, tidak seperti biasanya," kata Jeffry setelah salat Jumat di Wisma Agung, Lt 4, di Jl Taman Kemang, Kav 21, Jaksel, kemarin.

Menurut Jeffry, Nasrudin memberanikan diri curhat mengenai masalahnya selama ini. Sebab, tiga minggu sebelum kejadian, Nasrudin mendapatkan SMS ancaman. Nasrudin kala itu khawatir terhadap keselamatan keluarganya. Sebab, jika sampai masalah perselingkuhan Antasari terkuak, nyawa Nasrudin terancam.

Gara-gara kepikiran SMS itu, Jeffry mengaku Nasrudin tidak bisa berkonsentrasi saat bermain golf. "Saya tidak bisa bermain bagus karena saya terancam dan ancaman itu semakin gencar," kata Jeffry menirukan ucapan Nasrudin semasa hidup.

Karena yang mengancam adalah seorang pejabat, Nasrudin bercerita sangat hati-hati. Dia tidak ingin pembicaraannya diketahui orang lain. Karena itulah, Nasrudin memakai lima telepon genggam. Saat insiden penembakan pada 14 Maret 2009 di Kota Modern Land, Tangerang, Jeffry sedang bermain golf di Ancol. Dia mengaku gemetar saat mendengar kabar Nasrudin tewas ditembak setelah bermain golf.

Selain Antasari, Jeffry mengungkapkan bahwa bos Harian Merdeka juga terlibat dalam pembiayaan kasus pembunuhan itu. Karena dikenal teman Nasrudin, Jeffry diminta adik korban, Andi Syamsudin Iskandar, menangani kasus tersebut via surat kuasa No.021/ASI/PDN/JI/III/09.

Sebelum insiden itu, awalnya, Antasari berkenalan dengan caddy cantik di padang golf Modern Land. Namanya Tika (sebutan polisi). Perkenalan itu berlanjut dengan hubungan asmara. Pada saat itu, Tika juga sedang menjalin hubungan serius dengan korban hingga berujung dengan nikah siri.

Kabar itu diungkapkan sumber di Polda Metro Jaya. Meski sudah menikah siri dengan Nasrudin, Tika nekat menjalin hubungan asmara dengan Antasari. Hal itu pun, rupanya, diketahui korban. Tapi, korban bukannya melarang, tapi, kabarnya, justru hendak menjebak Antasari di saat keduanya sedang bercumbu. "Saat Antasari bertemu Tika di sebuah hotel, mereka berdua dipergoki Nas," ujar sumber itu.

Melihat umpannya 'termakan', Nasrudin mengancam Antasari akan menyebarkan aib tersebut jika beberapa permintaannya tidak dipenuhi. "Motifnya pemerasan. Beberapa permintaan dipenuhi, seperti jangan pernah lagi menjalin dengan istri sirinya itu, tapi beberapa lagi belum," ujar sumber itu lagi.

Akhirnya Antasari hilang kesabaran dan bercerita kepada seorang Pamen Polri, mantan Kapolres Jaksel dan Tangerang Kombespol Williardi Wizar (WW). "WW sudah ditahan di propam Mabes Polri dan masih diperiksa. Saat itu, WW mengatakan ke Antasari, jika masalah itu benar-benar diungkap, maka dapat membahayakan negara. Saat itulah muncul rencana melenyapkan korban," ujarnya. (in/tej/ibl/ind/jpnn/iro)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar