Rabu, 06 Mei 2009

Bangsa Pembajak Hak Cipta

Oleh Kusmayanto Kadiman

Berita Indonesia kembali masuk daftar hitam pelanggar hak cipta, sesuai dengan laporan United State Trade Representatives-Priority Watch List (Kompas, 1/5), sungguh merupakan tamparan.

Berita itu merupakan tamparan mengingat berbagai ide, konsep, inisiatif, hingga pembuatan undang-undang telah dilakukan. Pada tahun 2006 United State Trade Representatives memasukkan Indonesia ke daftar abu- abu, yaitu Watch List, sebagai apresiasi kesungguhan Indonesia memberantas pembajakan. Bahkan, tahun 2009 dicanangkan sebagai Tahun Indonesia Kreatif dengan semangat Aku 100 Persen Cinta Produk Indonesia. Pasti ada kesalahan mendasar yang kita lakukan. Apa itu?

Berita yang memalukan ini bak berita biasa dan nyaris tidak mendapat perhatian, mengingat seluruh masyarakat sedang demam, terpana, bahkan terhipnotis, hiruk-pikuk dagang sapi dan hawa panas konstelasi Pemilu Presiden 2009. Ditambah berita heboh seputar skandal pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Belum lagi geliat alam yang senantiasa melakukan penyeimbangan atas kecerobohan dan kerakusan manusia melakukan eksploitasi berlebihan pada kekayaan alam. Bencana alam dan bencana akibat ulah manusia silih berganti mengancam dan menerpa kita. Longsor, banjir, kebakaran bangunan dan lahan, sampai kecelakaan transportasi berkoalisi menjadi ancaman keseharian kita. Sumber penyakit pun seperti tak mau kalah. Demam berdarah, flu burung, dan kini flu babi bak berkoalisi menjadi ancaman massal ketenteraman kita.

Masalah ”software”

Hak cipta atau sering disebut hak atas kekayaan intelektual (HaKI) adalah produk hukum yang memberikan perlindungan atas karya inovatif dari sang pencipta. HaKI dapat diajukan dalam berbagai wujud, seperti merek dan logo dagang, resep, formula, komposisi, lirik, sampai artefak teknologi.

Upaya Indonesia melindungi HaKI atas karya komposer Gesang dengan lagu ”Bengawan Solo” adalah contoh nyata perjuangan menegakkan HaKI yang hasilnya bukan hanya memberikan manfaat positif pada sosioekonomi sang komposer, tetapi juga pada peningkatan citra bangsa.

Mari kita fokus pada HaKI yang terkait perlindungan dan penegakan hukum pada karya inovatif bidang peranti lunak dan aplikasi komputer yang lebih populer dengan istilah software.

Gempuran ”software”

Kesadaran akan peluang sekaligus ancaman globalisasi sudah kita pahami betul. Ide, konsep, strategi, sampai realisasi fortifikasi (”Fortifikasi dalam Globalisasi”, Kompas, 4/3) yang menjadi kiat mitigasi dari tsunami globalisasi juga sudah kita gulirkan.

Fortifikasi atas gempuran software impor telah membangunkan ABG (academicians, businessmen, government) untuk kemudian menggelorakan semangat Indonesia Go Open Source! (IGOS) pada awal 2004, yaitu semangat membangun peranti lunak yang memenuhi kebutuhan mendasar bagi pengguna komputer tanpa kekhawatiran melanggar HaKI dan tanpa pemborosan uang untuk membayar lisensi yang harus dibayarkan kepada pemilik yang notabene menjadi dampak negatif atau ancaman globalisasi.

Jika copyrights adalah senjata pamungkas kapitalis, juga telah ada perlawanan berupa gerakan copyleft yang digagas para pejuang yang juga berasal dari negara kapitalis, yaitu Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.

Semangat dan perjuangan IGOS ini serupa dengan copyleft movement. Ada juga gerakan dari Eropa yang melawan, yaitu perjuangan yang diinisiasi dan dimotori penuh determinasi oleh Linus Torvalds dari Finlandia, dengan membangun berbagai peranti lunak untuk mengoperasikan dan memanfaatkan komputer dengan semangat dari kita untuk kita.

Free Open Source Software (FOSS) telah menjadi ikon baru sebagai penyeimbang gempuran Proprietary Softwares; meski kata free tidak selamanya berkonotasi gratis. Jargon Linux kini dipandang bukan hanya sebagai sebuah artefak teknologi, tetapi sudah naik ke tataran semangat perjuangan copyleft.

Kapitalisme ”software”

Kesadaran akan peluang sekaligus ancaman kapitalisme software juga telah menarik perhatian pimpinan negara-negara, bukan hanya yang masuk daftar negara berkembang. Presiden AS Barack Obama dalam gebrakan 100 harinya juga menjadikan Gedung Putih sebagai pilot pengembangan dan penggunaan FOSS. Hal serupa dilakukan Presiden India yang pada 4 Juni 2007 menginstruksikan penerapan FOSS dalam sistem pertahanan demi menciptakan sistem pertahanan nasional yang lebih aman.

Ini dilakukan sang presiden yang juga ilmuwan dan ahli nuklir, mengingat peperangan masa kini atau perang modern tidak lepas dari bertahan dari ancaman melalui pengintaian, penetrasi, dan perusakan melalui sistem komunikasi dan informasi.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang terkenal dengan fokus To Make Brazil A Much Better Place, dengan lantang mengatakan tidak akan membolehkan Pemerintah Brasil boros dan membuang uang rakyat berupa melayangnya devisa hanya untuk membayar lisensi software. Dikatakan, dengan tegas kepada pemilik lisensi peranti lunak untuk hengkang dari Brasil jika tidak kooperatif dengan program pemerintah.

FOSS dijadikan inklusif dari dan untuk rakyat Brasil. Tetangga dekat kita yang relatif baru keluar dari kungkungan penjajahan, yaitu Vietnam, telah menggagas semangat dan kiat ”Vietnam 100 Persen Open Source by 2010”.

Kita kini sedang dengan harap cemas menanti deklarasi pasangan-pasangan yang akan berkompetisi dalam Pemilu Presiden 2009. Akankah semangat perjuangan Indonesia terhapus dari daftar hitam pembajak HaKI dijadikan indeks kinerja bagi pasangan-pasangan itu atau dicantumkan dalam kontrak politik dengan para pencontreng dalam Pilpres 2009?

Ataukah kita masih harus bersabar sampai datangnya kesempatan mendapat pemimpin yang mau dan mampu mengentaskan kita dari jebakan We do not learn that we do not learn seperti diuraikan Nassim Nicholas Taleb dalam buku The Black Swan-The Impact of Highly Improbable, 2007.

Kita berharap mendapatkan anugerah dipimpin negarawan yang terus berpikir menjadikan Indonesia sebagai zamrud khatulistiwa yang memberikan kesejahteraan dan lepas dari jebakan politikus yang fokusnya lebih pada pemenangan pilpres.

Kita berharap mendapat yang terbaik dan senantiasa siap menerima yang terburuk.

Kusmayanto Kadiman Menteri Negara Riset dan Teknologi

Senin, 04 Mei 2009

Antasari-Nasrudin Saling Mengancam, Rebutan Caddy Cantik


Dugaan bahwa Nasrudin Zulkarnaen, direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB), dibunuh karena latar belakang asmara semakin kuat. Pesan singkat (SMS) di ponselnya membuktikan hal itu. Nasrudin juga dilaporkan sempat membentuk tim pengacara sebelum tewas karena diberondong peluru di dalam mobil.

Fakta-fakta itu diungkapkan Boyamin, anggota tim advokasi Nasrudin, di Solo kemarin pagi (1/5). Menurut dia, pembunuhan tersebut dilatarbelakangi kasus asmara yang melibatkan salah seorang petinggi di negara ini yang berinisial AA. Boyamin tidak mau membeberkan kepanjangan inisial AA itu. Tapi, kemarin sore kepolisian dan Kejagung sudah menyebut Ketua KPK Antasari Azhar sebagai tersangka.

SMS itu, lanjut Boyamin, dikirimkan dari nomor ponsel Antasari. ''Tolong persoalan di antara kita diselesaikan dengan baik-baik. Kalau perlu, saya minta maaf. Tolong jangan di-blow up ke media. Kalau di-blow up tanggung sendiri risikonya,'' bunyi SMS dari Antasari ke Nasrudin seperti dikutip Boyamin.

Sebelum terbunuh, kata direktur Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) itu, Nasrudin sempat membentuk tim pengacara untuk mengusut ancaman tersebut. Namun, sebelum kasus itu diusut, Nasrudin telah terbunuh.

''Saat fakta-fakta yang kami temukan itu dikolaborasikan, mereka berdua itu (Antasari dan Nasrudin, Red) telah berteman sejak lama. Bahkan, sejak AA belum menjadi pejabat negara," jelasnya. Mereka dilaporkan saling bertukar informasi tentang suatu kasus yang terjadi di RNI (PT Rajawali Nusantara Indonesia, induk perusahaan PT PRB).

Namun, karena teman kencan korban diganggu Antasari, mereka berdua akhirnya saling mengancam. Fakta dan beberapa bukti yang sudah ditemukan itu, imbuh Boyamin, telah diserahkan sepenuhnya kepada polisi oleh keluarganya melalui pengacara. Tentu, temuan itu dipergunakan sebagai bahan pengungkapan kasus tersebut.

Selain bukti SMS, pihak keluarga melalui pengacara juga telah menyampaikan fakta-fakta lain tentang kedekatan hubungan korban dengan Antasari. Keluarga juga telah menyerahkan foto-foto mengenai kedekatan antara Antasari dan pasangan korban. Ditanya soal keterlibatan Sigid Haryo Wibisono (dalam keterangan persnya, Boyamin menyebut Sigid sebagai SHW) dalam perkara tersebut, Boyamin menyebut dia teman dekat sekaligus tim sukses Antasari saat akan menjabat pejabat tinggi di negara ini.

Mungkin, saat itu Antasari berkeluh kesah kepada Sigid tentang permasalahannya. ''Mungkin, SHW kebablasan dalam merespons pesan dari AA. Bisa juga, AA secara langsung menyuruh SHW untuk bertindak lebih jauh,'' ungkapnya. Boyamin meminta polisi mendalami materi dari sejumlah fakta dan barang bukti yang telah diberikan itu.

Khususnya, untuk mengetahui seberapa jauh peran Antasari. Apakah sekadar berkeluh kesah, minta tolong, atau menyuruh Sigid secara langsung. ''Dari sembilan orang yang tertangkap, termasuk SHW, kami harapkan bisa diketahui motivasi pembunuhan, siapa yang membayar, dan mereka dibayar berapa,'' tandasnya.

Seperti diberitakan, penyelidikan polisi terhadap kasus pembunuhan yang menimpa Nasrudin pertengahan Maret lalu kian terang. Satu di antara sembilan orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah Sigid Haryo Wibisono, 42. Dia adalah politikus, pengusaha, dan dikenal dekat dengan keluarga Gus Dur.

Sejak Rabu malam lalu (sekitar pukul 23.00), Sigid ditahan di Polda Metro Jaya bersama enam tersangka lain. Sementara itu, dua tersangka yang lain hingga tadi malam buron. Peristiwa yang dialami Nasrudin terjadi pada 14 Maret lalu. Dia ditembak dua pria tak dikenal ketika pulang dari bermain golf sekitar pukul 15.00 di kawasan Apartemen Modern Land, Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Ketika itu, Nasrudin berada di mobil BMW miliknya bernopol B 191 E yang disopiri Sentoro. Dua peluru menembus kepala direktur BUMN bidang agrobisnis, perdagangan, alat kesehatan, dan farmasi itu. Nyawanya tak tertolong setelah sekitar 20 jam dirawat di rumah sakit.

Berdasar hasil penyelidikan sementara polisi, kasus penembakan Nasrudin itu disebut-sebut melibatkan pejabat negara. Sumber yang bisa dipercaya di Polda Metro Jaya mengatakan, selain Sigid, salah seorang di antara tujuh tersangka yang diamankan adalah mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombespol Williardi Wizar. Nama salah satu pejabat tinggi di pemerintahan juga disebut-sebut terlibat di dalamnya.

Dua minggu sebelum insiden, kuasa hukum Nasrudin lainnya, Jeffry Lumempouw, mengaku sempat bermain golf dengan Nasrudin di Padang Golf Pondok Indah. Mereka juga sempat salat Asar bersama. Saat itu, Jeffry melihat wajah Nasrudin tampak sangat cemas. "Beliau khusyuk sekali menjalankan salat, tidak seperti biasanya," kata Jeffry setelah salat Jumat di Wisma Agung, Lt 4, di Jl Taman Kemang, Kav 21, Jaksel, kemarin.

Menurut Jeffry, Nasrudin memberanikan diri curhat mengenai masalahnya selama ini. Sebab, tiga minggu sebelum kejadian, Nasrudin mendapatkan SMS ancaman. Nasrudin kala itu khawatir terhadap keselamatan keluarganya. Sebab, jika sampai masalah perselingkuhan Antasari terkuak, nyawa Nasrudin terancam.

Gara-gara kepikiran SMS itu, Jeffry mengaku Nasrudin tidak bisa berkonsentrasi saat bermain golf. "Saya tidak bisa bermain bagus karena saya terancam dan ancaman itu semakin gencar," kata Jeffry menirukan ucapan Nasrudin semasa hidup.

Karena yang mengancam adalah seorang pejabat, Nasrudin bercerita sangat hati-hati. Dia tidak ingin pembicaraannya diketahui orang lain. Karena itulah, Nasrudin memakai lima telepon genggam. Saat insiden penembakan pada 14 Maret 2009 di Kota Modern Land, Tangerang, Jeffry sedang bermain golf di Ancol. Dia mengaku gemetar saat mendengar kabar Nasrudin tewas ditembak setelah bermain golf.

Selain Antasari, Jeffry mengungkapkan bahwa bos Harian Merdeka juga terlibat dalam pembiayaan kasus pembunuhan itu. Karena dikenal teman Nasrudin, Jeffry diminta adik korban, Andi Syamsudin Iskandar, menangani kasus tersebut via surat kuasa No.021/ASI/PDN/JI/III/09.

Sebelum insiden itu, awalnya, Antasari berkenalan dengan caddy cantik di padang golf Modern Land. Namanya Tika (sebutan polisi). Perkenalan itu berlanjut dengan hubungan asmara. Pada saat itu, Tika juga sedang menjalin hubungan serius dengan korban hingga berujung dengan nikah siri.

Kabar itu diungkapkan sumber di Polda Metro Jaya. Meski sudah menikah siri dengan Nasrudin, Tika nekat menjalin hubungan asmara dengan Antasari. Hal itu pun, rupanya, diketahui korban. Tapi, korban bukannya melarang, tapi, kabarnya, justru hendak menjebak Antasari di saat keduanya sedang bercumbu. "Saat Antasari bertemu Tika di sebuah hotel, mereka berdua dipergoki Nas," ujar sumber itu.

Melihat umpannya 'termakan', Nasrudin mengancam Antasari akan menyebarkan aib tersebut jika beberapa permintaannya tidak dipenuhi. "Motifnya pemerasan. Beberapa permintaan dipenuhi, seperti jangan pernah lagi menjalin dengan istri sirinya itu, tapi beberapa lagi belum," ujar sumber itu lagi.

Akhirnya Antasari hilang kesabaran dan bercerita kepada seorang Pamen Polri, mantan Kapolres Jaksel dan Tangerang Kombespol Williardi Wizar (WW). "WW sudah ditahan di propam Mabes Polri dan masih diperiksa. Saat itu, WW mengatakan ke Antasari, jika masalah itu benar-benar diungkap, maka dapat membahayakan negara. Saat itulah muncul rencana melenyapkan korban," ujarnya. (in/tej/ibl/ind/jpnn/iro)

Pembunuhan Direktur PRB 4 dari 9 Tersangka Adalah Satpam


Didit Tri Kertapati, E Mei Amelia R - detikNews


Jakarta - Sembilan tersangka kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen sudah ditangkap polisi. Dari 9 orang itu, 4 orang dari Flores. Tiga dari empat orang itu berprofesi sebagai satpam.

"Tersangka yang sudah ditangkap berjumlah 9 orang," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono dalam jumpa pers di Main Hall Gedung Utama Polda Metro Jaya, Senin (4/5/2009). Namun, Kapolda menyebutkan kesembilan tersangka dengan inisial saja.

Data yang diterima detikcom, para pelaku itu itu terdiri dari 1 pejabat tinggi negara, 1 pengusaha, 1 perwira menengah polisi, 1 pengangguran, 2 pekerja swasta, dan 3 orang satpam. Mereka adalah Antasari Azhar (ketua KPK), Sigid Haryo Wibisono (Komisaris Utama PT PIM), Kombes Pol Wiliardi Wizar (polri/mantan Kapolres Jaksel), Heri Santosa (pengemudi Scorpio), Eduardus Ndopo alias Edo (penerima order pembunuhan dari Wiliardi Wizar), Jerry Hermawan LO (penghubung Edo kepada Wiliardi), Daniel Daen (penembak/eksekutor), Fransiskus Tadon Keran alias AMSI (pengendali lapangan), dan Hendrikus Kia Walen alias Hendrik (pemberi order kepada Fransiskus).

Berikut data lengkap pelaku yang didapatkan detikcom:

1. Daniel Daen
Tempat tanggal lahir: Flores, 2 Juli 1973
Agama: Katholik
Pendidikan: SD
Pekerjaan: Satpam Toko Buah Festifal Gandaria
Alamat: Pal Batu, Menteng Dalam Jakarta Selatan dan Desa Narasaonsina Kecamatan Larantuka Kabupaten Waiwerang NTT
Peran: Penembak/eksekutor

2. Heri Santosa alias Bagol bin Rasja
Tempat tanggal lahir: Bogor, 1 Januari 1975
Agama: Islam
Pendidikan: STM Penerbangan
Pekerjaan: Pengangguran
Alamat: Jalan Menteng Atas Selatan Kelurahan Menteng Atas Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan dan Perum Griya Alam Sentosa Cileungsi Kabupaten Bogor
Peran: Pengendara sepeda motor/pilot saat penembakan

3. Fransiskus Tadon Keran alias AMSI
Tempat tanggal lahir: Flores, 23 November 1971
Agama: Katholik
Pendidikan: SMP
Pekerjaan: Security PT Yasun Litex
Alamat: Kompleks ABB Jalan Bungur Besar Raya Senen Jakarta Pusat dan Jalan Sanat Dalam Tangki, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Pusat
Peran: Pengendali lapangan saat Survei dan penembakan serta pembeli senjata api

4. Hendrikus Kia Walen alias Hendrik
Tempat tanggal lahir: Flores, 27 Oktober 1972
Agama: Katholik
Pendidikan: S1 Ekonomi
Pekerjaan: security toko
Alamat: Jalan Menteng Atas Kelurahan Menteng Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan dan Perum Koperasi BUGN Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Depok
Peran: Pemberi order kepada Fransiskus

5. Eduardus Ndopo Mbete alias EDO
Tempat tanggal lahir: Flores, 29 November 1971
Agama: Kristen
Pekerjaan: Swasta
Pendidikan: S1
Alamat: Jl Kramat Pulo Gundul Tanah Tinggi Johar Baru Jakarta Pusat dan Jl Raya Jatiluhur Kecataman Jati Asih Bekasi.
Peran: Penerima order pembunuhan dari Wiliardi Wizar

6. Jerry Hermawan LO
Tempat: Medan, 22 November 1957
Agama: Buddha
Pekerjaan: Swasta
Pendidikan: SMA
Alamat: Perumahan Permata Buana no 13 Jakarta Pusat
Peran: Penghubung Edo kepada Wiliardi

7. Sigid Haryo Wibisono
Tempat tanggal lahir: Semarang, 12 November 1966
Agama: Islam
Pekerjaan: Komisaris Utama PT Pers Indonesia Merdeka (PIM)
Pendidikan: S1 Ekonomi
Alamat: Jl Patiunus no 35 Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan Jl Kerinci VIII RT 010/02 no 65 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Peran: Penyandang/pemberi dana kepada Williardi)

8. Williardi Wizar
Tempat tanggal lahir: Sibolga, 22 Maret 1960
Agama: Islam
Pendidikan: S1
Pekerjaan: Polri (berpangkat Kombes Pol, mantan Kapolres Jakarta Selatan)
Alamat: Perumahan Taman Ubud Permai Karawaci Tangerang
Peran: Penghubung dan pemberi perintah kepada EDO

9. Antasari Azhar
Tempar tanggal lahir: Pangkal Pinang, 18 Maret 1953
Agama: Islam
Pekerjaan: Ketua KPK
Pendidikan: S2 hukum
Alamat: Perumahan Giri Loka II Jalan Gunung Merbabu Blok A/13 Bumi Serpong Damai (BSD Tangerang.
Peran: Otak pembunuhan/intellectual dader (asy/nrl)

Tersangka Pembunuh Nasrudin


Heri Santoso Koordinator Keamanan Lingkungan
Ramadhian Fadillah - detikNews



foto: Heri Santoso
Jakarta - Para tetangga mengenal Heri Santoso sebagai pria yang ramah. Di lingkungan tempat tinggalnya, tersangka pengendara motor (biker) penembak Direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen itu dipercaya sebagai koordinator keamanan.

"Heri itu saya tunjuk sebagai koordinator keamanan. Dia orangnya baik," kata Tomi Harjono, Ketua RT 10/4, Kelurahan Menteng Atas, Jakarta Selatan, pada detikcom di kediamannya, Senin (4/5/2009).

Heri tergolong warga lama di wilayah tersebut. Selama itu Heri yang tinggal bersama ibundanya dikenal sebagai warga yang aktif dan ramah terhadap para tetangga.

Penunjukannya sebagai koordintor keamanan lingkungan tidak terlepas dari pada keterampilannya di bidang keamanan hingga pernah memimpin kepala regu keamanan di Apartemen Rasuna, Jakarta. Maka berita bahwa Heri terlibat pembunuhan, sangat mengagetkan.

"Saya kaget waktu itu polisi bilang ke saya bahwa Heri terlibat," sambung Tomi.

(lh/nrl)

Kronologi Lengkap Pengungkapan Kasus Pembunuhan Nasrudin


Didit Tri Kertapati, E Mei Amelia R - detikNews




Jakarta - Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, polisi berhasil mengungkap tabir di balik kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen Iskandar. Pengungkapan kasus ini berawal dari kesaksian para saksi di lokasi penembakan, kemudian polisi menemukan motor Yamaha Scorpio yang digunakan pelaku penembakan.

Setelah itu, polisi kemudian menangkap Heri Santosa, pengemudi Yamaha Scorpio itu di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari pengakuan Heri, kemudian nama para tersangka lainnya terungkap. Kombes Pol Wiliardi Wizar dan Komisaris PT Pers Indonesia Merdeka (PIM) Sigid Haryo Wibisnono kemudian juga ditangkap.

Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/5/2009), Kapolda menjelaskan kronologi pengungkapan kasus pembunuhan Nasrudin ini. Namun, Kapolda menjelaskan kronologi ini dengan menyebut para tersangka dengan inisial-inisial.

Kapolda juga tidak menyebutkan motif pembunuhan terhadap Nasrudin. Kapolda juga belum menyebut peran Antasari Azhar secara jelas dalam kasus ini.

Penjelasan Kapolda tentang ini sama dengan data kronologi pengungkapan kasus Nasrudin yang diterima detikcom. Bahkan, data tersebut sudah mengungkap motif pembunuhan dan peran Antasari. Berikut kronologi lengkap yang didapatkan detikcom:

1. Dari hasil olah TKP yang dilakukan Tim Labfor Mabes Polri dan hasil analisa dari keterangan saksi yang ada di TKP diperoleh informasi bahwa pelaku menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru dan dibuatkan sketsa wajah pelaku dari keterangan saksi Sarwin yang berada di dekat TKP. Sarwin merupakan saksi yang saat kejadian penembakan, berada hanya 5 meter dari mobil Nasrudin.

2. Selanjutnya dilakukan penyelidikan dan diperoleh informasi adanya seseorang yang memiliki kendaraan roda dua dengan ciri-ciri seperti yang di TKP dengan pemilik bernama Heri Santosa, beralamat di Menteng Atas Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Setelah dilakukan pengecekan ke alamat tersebut, ditemukan sebuah sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru no pol B 6862 SNY dan selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap tersangka Heri Santosa. Heri Santosa mengaku sebagai pengemudi sepeda motor (pilot) dalam penembakan terhadap korban Nasrudin.

3. Heri Santosa mengaku saat kejadian dia mengendarai kendaraan tersebut bersama-sama dengan Daniel yang melakukan penembakan sebanyak dua kali terhadap korban dari arah sisi kiri kendaraan BMW B 191 E warna silver di Jalan Hartono Raya Kompleks Modern Land, sekitar 900 meter dari lapangan Golf Modern Land Tangerang pada Sabtu, 14 Maret 2009 sekitar pukul 14.00 WIB, sesaat setelah korban selesai bermain golf. Dalam pemeriksaan, diperoleh keterangan bahwa Heri Santosa dan Daniel mendapatkan pesanan untuk melakukan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dari Hendrikus Kia Walen.

4. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Hendrikus Kia Walen di Menteng Dalam Atas Jakarta Pusat. Rumah Hendrikus hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah Heri Santosa. Pengakuan Hendrikus, di lokasi penembakan saat itu adalah Heri Santosa (sebagai pilot), Daniel (sebagai eksekutor) dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru, sementara Fransiskus Alias Ansidan sdr SEI (sebagai pengawas) dengan menggunakan kendaraan Avanza B 8870 NP. Hendrikus Kia Walen sebagai penerima dan pemberi order. Dari keterangan Hendrikus diketahui bahwa Hedrikus menerima uang sebesar Rp 400 juta dari Edo, dengan perincian: dibagikan ke masing-masing Heri Santoso Rp 70 juta, Daniel Rp 70 juta, Amsi Rp 30 juta, Sei Rp 20 juta, dan sisanya untuk Hendrikus serta biaya operasional sebesar Rp 100 juta.

5. Dari hasil pemeriksaan terhadap Hendrikus diketahui bahwa senjata api yang digunakan jenis Revolver kaliber 38 berikut peluru 6 butir yang masih ada di dalam silinder, dua sudah ditembakkan dan empat masih belum ditembakkan yang ditanam di halaman rumah di Tebet Jakarta Selatan. Selanjutnya senjata api itu disita dan dilakukan uji balistik Labfor Mabes Polri. Hasilnya, peluru itu identik dengan anak peluru yang ditemukan di tubuh Nasrudin.

6. Dari pengakuan Hendrikus, diperoleh keterangan tentang keberadaan Fransiskus. Polisi akhirnya menangkap Fransiskus alias Amsi di Batu Ceper Kali Deres Jakarta Barat. Saat diperiksa, Amsi mendapat uang Rp 30 juta, kemudian Hendrikus memberi dana operasional kepada Fransiskus sebesar Rp 15 juta untuk membeli senjata api dan sebesar Rp 5 juta untuk menyewa kendaraan Avanza.

7. Dari hasil peneriksaan Heri Santosa, dilakukan penangkapan terhadap Daniel (penembak/eksekutor) di Pelabuhan Tanjung Priok sewaktu pulang dari Flores dengan menggunakan kapal laut Silimau. Saat diperiksa, Daniel mengaku mendapatkan pesanan penembakan terhadap Nasrudin dengan mendapat imbalan uang Rp 70 juta.

8. Kepada polisi, Hendrikus mendapat pesanan penembakan terhadap Nasrudin dari Eduardus Ndopo Mbete alias Edo. Kemudian polisi menangkap Edo di rumahnya di Jalan Jati Asih Bekasi. Edo mengakui dan membenarkan pengakuan Hendrikus. Kemudian dilakukan pendalaman terhadap Edo untuk mengetahui motif dan siapa yang menyuruh Edo untuk melakukan penembakan terhadap Nasrudin.

9. Saat diperiksa, Edo mengaku mendapat perintah untuk membunuh korban dari Wiliardi Wizar (Kombes Polisi). Edo bisa bertemu Wiliardi atas prakarsa Jerry. Sebelumnya Wiliardi meminta Jerry untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Untuk itu, Jerry kemudian mengatur pertemuan Wiliardi dengan Edo di Halai Bowling Ancol. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Jerry di Perumahan Permata Buana Jakarta Barat.

10. Jerry mengaku bahwa Wiliardi bertemu dirinya di Halai Bowling Ancol untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Saat itu, dia mempertemukan Wiliardi dengan Edo. Saat itu, Edo dijanjikan imbalan Rp 500 juta. Pada pertemuan itu, diserahkan foto korban dan foto mobil yang biasa digunakan korban kepada Edo.

11. Kepada polisi, Edo mengaku menerima uang sebesar Rp 500 juta dari Wiliardi di lapangan parkir Citos (Cilandak Town Square) Jakarta Selatan. Berdasarkan keterangan Edo dan Jerry, selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Wiliardi Wizar di Taman Ubud Lippo Karawaci Tangerang.

12. Dari pemeriksaan Wiliardi, diperoleh keterangan bahwa uang yang diserahkan kepada Edo berasal dari Sigid Haryo Wibisono dan atas sepengetahuan Antasari. Sebab, saat Sigid memberikan Rp 500 juta kepada Wiliardi, Sigid menelepon Antasari untuk mengkonfirmasi penyerahan uang tersebut sebagai biaya operasional di lapangan. Maka pada hari Selasa 28 April 2009, polisi menangkap Sigid di Jalan Pati Unus 35 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

13. Dari hasil pemeriksaan Wiliardi dan Sigid diperoleh keterangan bahwa yang mempunyai keinginan untuk menghilangkan nyawa Nasrudin adalah Antasari Azhar. Sebab, Nasrudin sering meneror dan memeras Antasari dengan ancaman akan membongkar perselingkuhan Antasari dengan istri siri Nasrudin bernama Rani yang terjadi Hotel Grand Mahakam Kebayoran Baru Jaksel sekitar bulan Mei 2008. Karena ancaman tersebut dirasakan sudah sangat mengganggu baik diri pribadi maupun istri dari Antasari, maka Sigid menghubungi Wiliardi untuk meminta bantuan pembunuhan terhadap Nasrudin. (asy/nrl)